Senin subuh 5 April 1982 saya dibangunkan ayah untuk shalat subuh berjamaah di tajug (surau) di tengah kampung kami. Ayah selalu membangunkan saya dengan berbagai cara, mulai dengan panggilan, mengguncang-guncang badan, hingga yang paling tidak saya sukai yaitu memercikan air dingin tepat di muka. Apabila ke tiga cara itu tidak berhasil, masih ada cara lain yakni memijit jempol kaki dengan keras, barulah saya bisa bangun dengan muka meringis. Ayah sangat disiplin dengan waktu, beliau mewajibkan putra-putrinya untuk bangun sendiri atau dibangunkan dengan cara apapun. Tidak terkecuali bagi saya satu-satunya anak lelaki diantara 6 saudara perempuan, saat itu umur saya 9 tahun dan baru duduk kelas 3 SD.
Udara subuh itu tidak sedingin seperti biasanya, langit lebih gelap, awan tebal menutupi langit mengaburkan kerlip bintang di kejauhan. Saya berjalan terkantuk-kantuk di belakang ayah yang memegang oncor (obor terbuat dari bambu), apinya bergoyang menari-nari ditiup angin. Jalan setapak yang kami lalui nyaris tidak tampak, beberapa kali kaki saya terantuk batu atau gundukan tanah keras yang menyembul ke permukaan. Ayah tidak menghiraukan saya yang beberapa kali mengaduh karena tersandung batu, beliau tetap berjalan cepat seolah ingin segera sampai ke tajug, padahal bedug subuh belum ada yang menabuh.
Ada kolam kecil di belakang tajug tempat orang berwudlu sebelum melaksanakan shalat, airnya dari selokan di ujung barat kampung dialirkan melalui bambu yang ditanam di bawah tanah. Ayah langsung mencuci muka, berkumur-kumur dan mengambil wudlu, sementara saya dengan mata yang masih terasa berat menahan kantuk memperhatikan beliau. Setelah beliau selesai berwudlu giliran saya bersentuhan dengan air yang cukup dingin, mencuci muka lalu mengambil wudlu. Dengan tubuh menggigil saya memasuki tajug, bersiap melantunkan adzan segera setelah ayah menabuh bedug, hari itu adalah giliran saya mengumandangkan adzan.Tidak ada TOA atau pengeras suara di tajug itu, sebisa mungkin saya harus melantunkan adzan dengan suara keras, agar orang di kampung dapat mendengar waktu subuh telah tiba.
Ada saat di mana kami harus menunggu imam shalat datang, apabila beliau terlambat atau sama sekali berhalangan hadir tugasnya digantikan oleh ayah saya. Di waktu jeda itulah jamaah melantunkan puji-pujian berisi shalawat kepada baginda Rasul dan keluarganya yang suci. Melantunkan puji-pujian maupun shalawat Nabi adalah hal yang lumrah dilakukan di antara adzan dan iqomah di tajug kami. Tidak ada yang merasa terganggu dengan koor shalawat, semua jamaah melantunkan dengan penuh khidmat, bagi yang sedang shalat tahiyyatul masjid maupun shalat qobliyah mereka tetap dengan khusyu menyelesaikan shalat.
Sepuluh menit berlalu imam shalat belum juga datang, saya bangkit untuk mengumandangkan iqomah, diikuti jamaah berdiri mengatur barisan. Ayah tampil ke depan untuk memimpin shalat, sebelumnya beliau tidak lupa meminta jamaah merapikan shaf. Subuh itu terasa hening dan khidmat, hanya suara parau ayah melafalkan ayat qur’an, takbir, dan bacaan do’a qunut diselingi suara jamaah mengucap amin. Selesai sudah kami melaksanakan shalat subuh berjamaah, orang dewasa melanjutkan dengan bacaan yang waktu itu belum saya mengerti apa yang mereka baca. Saya hanya bisa membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil selebihnya saya tidak bisa mengikuti apa yang mereka baca, terakhir yang saya lakukan hanyalah mengangkat ke dua tangan disertai kata amin berulang-ulang dan ditutup dengan mengusap muka.
Setelah selesai shalat dan berdo’a, orang dewasa melanjutkan dengan mengobrol menunggu hari terang, sebagian sambil berbaring meluruskan kaki yang sepertinya kaku setelah sekian waktu bersila. Ayah tidak mau berlama-lama di tajug, beliau mengajak saya pulang untuk melakukan aktifitas pagi. Sambil berselendangkan sarung yang sudah kucel saya mengikuti ayah di belakang, berjalan setengah lari mengimbangi ayah yang berjalan cepat. Beberapa kali sandal jepit yang pada bagian untuk dijepit jari sudah disambung dengan tali rafia terlepas, berulang kali saya membungkuk mengambil sandal yang terlepas. Ada cerita menarik dengan sandal jepit, saya sering dimarahi ayah karena menukarkan sandal jepit yang masih layak pakai dengan gulali (kembang gula).
Adalah sapu lidi yang pertama kali saya pegang, sama seperti pagi-pagi sebelumnya, karena itulah tugas saya setiap pagi. Menyapu halaman rumah yang dipenuhi daun dan ranting yang berserakan, dedaunan dan ranting kering yang berguguran dari pohon mangga, jambu, nangka, alpokat dan beberapa pohon yang tumbuh subur. Memunguti kelopak bunga ros yang berjatuhan, mencabuti rumput liar yang terselip di antara pohon bunga matahari, menata gundukan tanah yang ditanami beberapa pohon dapur hidup yang berserakan bekas dicakar ayam. Mengumpulkan dedaunan dan ranting kering bersama sampah organik lainnya pada sebuah lubang di sudut halaman, memisahkan sampah plastik bekas lalu membakarnya. Aktifitas itu segera berhenti setelah ibu memanggil saya agar segera mandi pagi.
Ada pancuran (jamban) terbuat dari bambu di atas kolam di depan rumah tempat saya biasa mandi, airnya dialirkan dari selokan melalui batang bambu yang kemudian ditampung pada tanegan (semacam bak kecil) di sisi utara kolam. Airnya waktu itu cukup jernih dan bersih. Sebetulnya ada satu lagi tempat mandi yang dibuat permanen di pinggir kolam sebelah selatan, tetapi saya lebih suka mandi di pancuran karena tidak harus bersusah payah menimba air dari sumur dan tidak perlu pakai gayung. Tinggal membungkukkan badan, lalu merasakan aliran air dari batang bambu yang deras menimpa tubuh, dingin tapi menyegarkan. Seluruh tubuh dari kepala sampai ujung kaki pasti tersapu oleh air, sementara itu saya bisa ngaruru (menggosok badan dengan batu sungai yang halus untuk membuang daki). Empat kakak perempuan saya lebih menyukai mandi di bak permanen, katanya lebih nyaman tidak seperti mandi di pancuran yang dindingnya hanya ditutup dengan anyaman bambu dan atasnya beratapkan seng. Waktu itu saya belum begitu mengerti dengan kata nyaman menurut apa yang dimaksud oleh kakak perempuan saya.
…bersambung
duh..jadi kangen mandi di pancuran saat treking ke ujung kulon sana… (eh Pertamax yaaaaa.??)
============================================================================
petromax
Duhh asyiknya mandi di Pancuran.
Saya tahun 1974 pernah survey (bersama tim yang dipimpin dosen IPB) diperkampungan penduduk, daerah Wanaraja ke atas….hanya sekitar 10 km dari kawah Galunggung.
Terus saat Galunggung meletus tahun 1982, saya ada tugas meninjau proyek di Tasikmalaya…dan karena jalanan tertutup debu, sempat mampir di Cipanas, pemandian air panas…..sambil mendengar gelegar Galunggung yang lagi batuk
============================================================================
tahun 1974 saya masih bayi bu hehehe
kisah yg menarik, ditunggu sambungannya ya…
============================================================================
terima kasih pak, saya lagi nyambung-nyambungin nih
wah.. orang tasik yah??
ridu di singaparna lho..
============================================================================
Oh Singapur ya? Saya di sebelah utara Singapur, tepatnya Portugal (Peranakan Tutugan Galunggung). Sebelah barat Perancis (Peranakan Cisayong)
rumahnya pasti asri ya, soale ada kebon yg penuh dng pohon2 buah dan kembang
============================================================================
rumah nggak asri, maklum rumah kampung, cuma sejuk dengan pepohonan
OOT : bagaimana dengan lututnya sekarang ? moga cepet baikkan dan sehat kembali
============================================================================
Alhamdulillah ada kemajuan, tinggal lutut sebelah kiri masih ngilu.
hmm nunggu sambungannya ahhh.
============================================================================
hemmm….ngelanjutin sambungannya ah
to be continue ( tulisane bener ga ya ?
)
============================================================================
…mungkin yang benar bersambung
hmm..seru…waiting list ya…
============================================================================
apanya yang seru bu?
salam …
kenangan yang sangat menarik dan perlu untuk di Awetkan …:)
============================================================================
Ikan asin pak Doel
salam ..
umpami uwih ka Tasik nitip pak …..:)
nyobian bahasa tingkat / sunda …He….he…
============================================================================
Wa’alaikumsalam warahmah,
Bade nitip salam sabaraha lambar pak?
Jadi Terharu membaca pengalaman masa kecil bpk.. Tapi lebih sedih masa kanak-kanak di jaman sekarang yg serba Hi-Tech sangat jauh berbeda. ditunggu sambungannya..
============================================================================
Kenapa sedih pak? Situasinya jauh berbeda
sumprit, sambil baca saya jadi ikut berimajinasi…
pinter banget nih cara ceritanya,… keren
============================================================================
pengen mandi di pancuran ya, hehehe
seru juga negh cerita….to be continuednya tak pantening degh
============================================================================
iya degh….
Membaca karya ini serasa membaca pendahuluan sebuah novel. Bahasanya indah mendayu-dayu, informatif, dan bergaya otobiografis. Saya terpesona. Ini tulisan harus berwujud jadi novel. Tidak boleh tidak!!
============================================================================
11 ya bu
emang kalau gajah memandikannya dengan batu kali??heehhe
wah aku juga waktu kecil sering madi di kali rame2, cebar cebur..
asik emang hidup di desa..
salam
============================================================================
ya, saya jaman dulu untuk buang daki di kaki dan tangan pake batu kali, bukan pake spons seperti sekarang. Bahkan gosok gigipun pake lameta (semacam rumput) kalo kehabisan odol
Sebuah paparan cerita yang sempurna. Selamat menjadi penulis handal, teman!
============================================================================
halah bu…ampun deh
salam
Janten emut panineungan keur budak, iya mandi masih di pancuran, sok ka tajug, susulumputan mun caang bulan, milarian batu kanggo ngaruru, sigana teu tebih nya di nu hidup di kampungan mah. Ehm asa wararaas pisan Kang
============================================================================
waas ku bureuteuna nya teh
Cerita yang menarik kang, jadi inget kampung halaman waktu kecil dulu.
============================================================================
yuk pulang kampung!
Galunggung Tasikmalaya ?
saya pernah ke puncaknya
============================================================================
sama saya juga pernah muncak
gajah kurus mandi di pancuran? hehehehe….
diantos ah kang sambungan ‘dongeng’na.. teu acan dugi kana gunung meletusna…
============================================================================
Muhun di pancuran da teu aya walungan ageung di kampung abdi mah.
Untung daku tidak sesengsara sampeyan waktu kecilnya. Alhamdulillah. Terima kasih telah Engkau limpahkan begitu banyak rizki-Mu padaku.
============================================================================
Alhamdulillah, ya Allah dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu dan dengan kebesaran-Mu yang memenuhi segala sesuatu.
Menurutku cerita di atas bukan mempermasalahkan kesengsaraan, tapi merenungkan kehidupan yang penuh dengan hikmah dalam memperkaya batin dan keimanan penulisnya pada Yang Maha Sombong! Makanya Jangan sombong ya Anda, unduk!
waduh…..masa kecil saya di kota……gak ada indah2 nya blas….
============================================================================
ah masa sih? bagi orang kampung seperti saya, kota adalah tempat yang indah
damai banget
============================================================================
damai itu indah ya
Yaa…bersambung…
Btw, saya koq baru tahu ya, gajah mandinya di pancuran.
saya makin mikir nih…pancurannya segede apa?
Salam ….
semoga kita semua jadi pecinta Gunung …..(khusus lk )
aku ga pernah ke daerah sana hiks…
wahhhh asik tuh klo ngingat masa2 kesil dulu mas
sambil lap ingus trus main layangan
Saya besar di kota, tapi suka mandi di pancuran kalau liburan ke rumah nenek..kalau dirumah cukup pake selang ajah
1982 …
HHhmmm … saya baru lulus SMU … dan 6 bulan pertama kuliah di Bogor …
BTW … asik bener ya kalo aku baca ceritanya ..
Akhirnya aku juga mengalami hal ini, hidup di pedesaan selama 3 bulan ketika aku KKN 1986 …
ah indah sekali
kalo saya, masa kecil nya dikelilingi bule cuman pake kolor doang… huehuehue!!!
hah??
menukar sandal jepit dengan gulali…
Duh Ayi, maca carios ieu mah Teteh teh asa nalangsa. Sok emut waktos Galunggung utah-utahan teh apan pun biang tiwas dina raraga masihan sumbangan.
galunggung jadi inget di tasik nih. kenangan yg tak terlupakan.
Sangat ditunggu cerita lanjutannya, cangkeueueueullllll!!!!
kengen jamban, hmm …pagi2 setor duh eta ikan …..
ditunggu cerita berikutnya
kok bisa ya mengingat kenangan puluhan tahun yang lalu?? Btw numpang pasang info lagi ya;
OOT:
Bagaimanakah peran blogger dalam mengisi kemerdekaan RI??
ikuti kontes #4 di blog saya. Siapapun boleh ikutan, gratisss…
Wah2… sebulan saya nggak ngeblog ternyata mas gajah sudah nongol lagi.. hohoho..
Waduh lom mandi nich,… ketauan bau ga yach???
Hihihi… mas Unduk kok menyamakan mandi di pancuran itu dengan kesengsaraan. Belum tau dia…, enaknya mandi di pancuran. Apalagi di tutugan Galunggung. Brrr… tiris… tapi segerrrr.
tulisan yang menarik.. salam kenal
masa kecil emang indah
halo apa kabar ? lama ndak apdet nih
sekarang kangen mandi di pancuran ya ??
Adeuh…
asa mani waas pisan, Kang…
dupi asalna ti palih mana akang teh nya…?
da abige masih barudak daerah galunggung, di daerah Kikisik- dsktrnya. Di desa gunungsari kampung sukamanah na…
Wilujeng boboran siam, hapunten sok ngaheureuyan. Wilujeng mudik, wilujeng ngurek belut di sawah, wilujeng tuang sareng tutug oncom, sareng wilujeng macet pas uihna ka Bdg.
senang denger kakimu sudah sembuh, berkat kalung ajaib ? …. hmmm jadi penasaran, kalo ada waktu cerita donk di postingan
Met lebaran yach …. maaf kalao ada salah kata dalam berkomentar selama ini, lahir dan bathin ya
Dan semua berdzikir termasuk air yang keluar dari pancuran itu ya kang … ALLAH akbar
Saya sering sekali berkata kata yang tidak semuanya indah, kadang saya salah, mungkin riya, mungkin sedikit dusta … dan saya mohon untuk dimaafkan segala kesalahan saya yah
Minal aidin wal faidzin … maafkan saya lahir dan batin karena beginilah kewajiban kita sebagai hamba untuk meminta maaf dan memberi maaf.
Rindu [a.k.a -Ade-]
Jadi terhanyut dengan cerita masa kecilnya..
Sebenarnya saya juga pengin cerita masa kecilku di desaku sana,tapi sulit untuk merangkai kata-kata yang indah seperti ini…saya tunggu kelanjutannya pak..
Duh… jd inget masa kecil sy beberapa puluh tahun lalu, msh di daerah singaparna tepatnya kec. leuwisari. Dulu blm ada listrik, tajug dibuat dari bilik bambu, pancuran jg dari bambu dan air mengalir lansung dari selokan di pinggir sawah, TV (htm pth) sekampung cuma ada 1. Justru dari tempat itu banyak lahir pekerja keras & org2 yg sukses, tanpa jd koruptor!! Hatur nuhun kang.