Pada halaman ini saya akan menceritakan kisah kenang-kenangan hidup saya masa kecil di kampung halaman. Sebuah kampung di selatan gunung Galunggung kira-kira jauhnya 9km atau 1,5 jam perjalanan darat dengan jalan kaki dari rumah, atau sekira 5km dari Singaparna ibu kota Kabupaten Tasikmalaya sekarang. Kisah ini menitikberatkan pada kenangan yang ada kaitannya dengan kejadian meletusnya gunung Galunggung 5 April 1982 hingga 8 Januari 1983.
Saya kira hampir semua orang tahu atau setidaknya pernah mendengar nama gunung Galunggung, terutama bagi mereka yang lahir jauh sebelum gunung itu meletus dengan dahsyat pada tahun 1982. Beberapa teman saya yang tinggal di kota lain yang jauhnya ratusan km dari gunung Galunggung menceritakan pengalamannya, menikmati siang hari menjadi gelap disertai hujan abu. Sebagai gambaran tentang gunung Galunggung dan untuk melengkapi cerita selanjutnya berikut saya kutip dari wiki.
Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167m di atas permukaan laut, terletak sekitar 17km dari pusat kota Tasikmalaya, tercatat pernah meletus pada tahun 1882 letusan menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40km dari puncak gunung.
Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1894. Di antara tanggal 7-9 Oktober, terjadi letusan yang menghasilkan awan panas. Lalu tanggal 27 dan 30 Oktober, terjadi lahar yang mengalir pada alur sungai yang sama dengan lahar yang dihasilkan pada letusan 1882. Letusan kali ini menghancurkan 50 desa, sebagian rumah ambruk karena tertimpa hujan abu.
Pada tahun 1918, di awal bulan Juli, letusan berikutnya terjadi, diawali gempa bumi. Letusan tanggal 6 Juli ini menghasilkan hujan abu setebal 2-5mm yang terbatas di dalam kawah dan lereng selatan. Dan pada tanggal 9 Juli, tercatat pemunculan kubah lava di dalam danau kawah setinggi 85m dengan ukuran 560×440m yang kemudian dinamakan gunung Jadi. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 5 April 1982 disertai suara dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar. Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983.
Ada kenangan masih tersimpan di memori saya, kenangan mengerikan melihat dengan mata kepala sendiri kilatan cahaya yang terang benderang di atas gunung Galunggung yang diikuti dengan suara dentuman sangat keras. Bola-bola api dari bebatuan panas yang dimuntahkan ke angkasa melayang-layang lalu jatuh entah di mana, disertai dengan suara gemuruh luar biasa yang memekakkan telinga. Merasakan bagaimana tubuh disiram dengan debu hangat menyesakkan dada dan membuat mata pedih, mendengar bunyi hujan pasir dan kerikil menimpa genting, hingga membuat atap roboh. Menyaksikan pepohonan layu, lalu mati hanya tinggal batangnya yang meranggas. Menyaksikan ikan-ikan bergelimpangan di kolam, hewan ternak berlarian kebingungan, dan ayam-ayam yang baru beberapa jam menikmati cahaya matahari kembali ke kandang, mengira hari yang gelap karena pekatnya debu adalah saat malam telah tiba.
Kisah ini saya muat diblog gajahkurus, dan akan ditulis bersambung memenuhi permintaan guru dan sekaligus sahabat saya yang telah memberikan komentar pada artikel tentang gajah_kurus. Terima kasih atas komentar dan support dari ibu guru pemilik beberapa blog bermutu bujanggamanik, pamanahrasa, pop, poponsaadah, nice dan beberapa blog milik beliau yang mungkin masih ada di belantara net tetapi masih dirahasiakan
Semoga sepenggal kisah teramat sederhana ini yang diracik dengan untaian kata dan tuturan kalimat yang tidak teratur mengandung hikmah dan manfaat, terutama bagi saya sendiri yang fakir dengan segala keterbatasan. Wallahu’alam
Salah satu trade mark gajahkurus itu low profile. Kalau tidak rendah hati bukan gajahkurus namanya!!
Saya tidak pernah merasa jadi gurumu dik. Saya hanya seorang sahabat yang kadang-kadang banyak menuntut. Dan blog saya hanya itu tak ada yang dirahasiakan. Semuanya jauh pula dari level bermutu. Jangan berlibihan “suudzon” teradap saya
Nepangkeun, simkuring ge bibit buit ti tutugan galunggung. Abdi mah ti Singapur.
Emh eta meni waas jaman keur galunggung bitu. Baranyayna seuneu tina kawah eces atra katingal ti Singaparna.
hm… saya bisa merasakannya
ih dimana sih kok ga penah nyebut nama asal.. aku orang singaparna loh… nyungseb dikit sih… leuwisari tepatnya.